header-int

TENANG DAN BIJAK DI TENGAH PANDEMIK

Kamis, 30 Jul 2020, 09:35:05 WIB - 63 View
Share
TENANG DAN BIJAK DI TENGAH PANDEMIK

Oleh: Yogi Tamara*

Seluruh dunia yang ada di bumi saat ini sedang menghadapi wabah yang merajalela di semua tempat yang ada di belahan dunia. Wabah tersebut adalah virus yang biasa disebut COVID-19 atau istilah lain virus corona. Menurut beberapa sumber virus ini berasal dari Wuhan, China. Pada bulan Desember virus ini membuat dunia gempar karena terdapat beberapa video yang menayangkan beberapa warga di kota Wuhan, China berjalan kemudian seketika terjatuh dan meninggal. Namun saat ini dunia tak terfokus kedalam kasus di Wuhan saja, saat ini mereka terfokus dalam mengatasi virus COVID-19 ini yang sudah masuk ke negara masing-masing.

Negara adikuasa seperti Amerika dan negara maju lainnya seperti Italia juga mendapatkan imbas yang sangat besar dalam merebaknya kasus ini. Banyak korban berjatuhan di kota-kota mereka. Bukan hanya negara-negara maju, virus ini juga masuk ke negara-negara lain bahkan sampai di Indonesia. Jumlah kasus positif Indonesia saat ini bahkan mencapai angka delapan puluh ribu lebih kasus. Terfokus ke negara Indonesia, negara Indonesia sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kematian yang disebabkan virus ini. Seperti gerakan untuk tetap dirumah, pola hidup baru atau new normal.

Kita teringat suatu kisah zaman dahulu yang pernah dijelaskan ketika seorang waliyullah yang bertemu dengan kumpulan wabah yang hendak menuju Damaskus. Kemudian setelah beberapa tahun kembalilah bertemu waliyulloh dan wabah. Bertanya waliyulloh mengapa jumlah korban yang berjatuhan melebihi dari perkiraan saat percakapan sebelumnya. Dan ternyata ketika ditanya waliyullah  mengapa bisa mencapai jumlah sangat banyak melebihi perkiraan, dijawab wabah “karena manusia kehilangan ketenangan atau ketakutan yang berlebihan.”  Bisa dipahami bahwa ketakutan berhubungan dengan kekebalan tubuh (imun). Turunnya sebuah imun dalam tubuh menyebabkan tubuh kita mudah untuk terserang penyakit bahkan virus. Sehingga perlu diperhatikan yaitu bahwa kekebalan tubuh berawal dari pola pikir kita yang optimis. Sehingga menjadikan fisik kita siap atau sehat.

Saat ini banyak negara-negara berupaya untuk menemukan penawar/obat atau saat ini disebutkan vaksin yang bertujuan untuk menjadikan tubuh seseorang menjadi lebih kuat atau kebal terhadap serangan virus COVID-19. Beberapa bulan yang lalu kita bisa melihat bagaimana Negara Brazil bahkan Presiden Brazil meremehkan dengan pola hidup sehat atau protokol kesehatan di tengah pandemik. Bahkan beliau tidak memakai masker dan bersalaman dengan beberapa orang. Kemudian beberapa hari yang lalu kita bisa melihat bahwa beliau positif terkena COVID-19 Dan Negara Brazil menjadi Negara kedua angka kematian terbanyak disebabkan COVID-19. Itu berawal dari bagaimana beberapa warga Brazil tidak terlalu memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemik.

Dari ulasan yang telah dipaparkan bisa diambil kesimpulan, bahwa ketenangan dalam mengahadapi suatu hal itu penting, ada pendapat yang menyatakan, “separuh dari ketenagan adalah obat,” sehingga dengan kita tidak tenang atau panik menjadikan imun (kekebalan tubuh) kita menjadi baik, dan dengan kita takut yang berlebih menjadikan imun kita turun, seperti halnya kisah waliyullah dan wabah tersebut. Namun juga, kita sebagai umat muslim harus bijak dalam mengahadapi situasi saat ini. Kita boleh tenang, namun juga tidak boleh terlalu menyepelekan. Seperti halnya mentaati pola hidup baru (new normal). Dan saya mengkutip dari pendapat seorang ustadz Kepala Madin, “Kita boleh memperhatikan imun, namun jangan lupakan iman.” Karena dalam menghadapi situasi saat ini dibutukan ketenangan dan bijak dalam merespon setiap kejadian. Kita harus tetap menjalankan ibadah walau dirumah, namun juga jangan sepelekan kesehatan tubuh kita, atau kita tidak boleh terlalu mengkhawatirkan imun, sehingga apa yang wajib (ibadah) malah tidak dilaksanakan. Semua bidang terkena imbasnya bahkan ibadah hajipun harus tertunda. Tetaplah tenang dan bijak dalam mersepon, karena mungkin ini adalah cobaan dari Alloh, seperti halnya mereka yang beriman dan gugur dalam tugasnya seperti perawat dan dokter saat berupaya menyembuhkan pasien, semoga mereka termasuk orang yang meninggal Syahid.

 *Yogi Tamara  adalah Mahasiswa Peserta KKN-DR Di Desa Loano.

Stainu Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Purworejo Menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Yang Unggul Dan Terkemuka Dalam Integrasi Keilmuan Yang Berwawasan Global
© 2020 Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Purworejo Follow STAINU PURWOREJO: Facebook Twitter Linked Youtube