header-int

Sejarah Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Purworejo

Posted by : Administrator
Share

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo merupakan Perguruan Tinggi Islam tertua di Kabupaten Purworejo, dan termasuk Perguruan Tinggi NU yang tertua di Jawa Tengah. Dalam sejarahnya, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo lahir di tengah-tengah masyarakat Purworejo sebagai respon dari Umat Islam Purworejo untuk menampung lulusan-lulusan SMTA di seputar tahun 1974/1975. Saat itu umat Islam Purworejo utamanya warga NU belum memiliki Perguruan Tinggi Islam, kecuali Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Cabang Yogyakarta yang menjadi milik Pemerintah. Namun demikian selanjutnya muncul Peraturan Pemerintah terhadap Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 1974 yang secara tegas menyebutkan bahwa Kelas Paralel/Filial/Cabang yang ada di luar kota tidak diakui berstatus sama dengan fakultas yang ada di Perguruan Tinggi induknya. Ketentuan tersebut memaksa cabang-cabang Perguruan Tinggi lain untuk menentukan sikap (memisahkan diri atau memproses dan berusaha mendapatkan status sendiri). Atas dasar itulah IAIN Sunan Kalijaga di Purworejo harus ditarik kembali ke Yogyakarta.

Ditariknya Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari Purworejo tidak melemahkan semangat kaum Nahdliyin untuk tetap mempertahankan kehadiran Perguruan Tinggi Islam. Hal ini diperbarui dengan tetap membuka Perguruan Tinggi Islam yang bernama Perguruan Tinggi Islam Imam Puro (PTII). Pada tanggal 12 Shafar 1394 H, bertepatan pada tanggal 6 Maret 1974 berdirilah Perguruan Tinggi Islam dengan nama PTII (Perguruan Tinggi Islam Imam Puro) di bawah Yayasan Pendidikan Islam Imam Puro (YPII) Purworejo.

Pendirian PTII Purworejo (kini STAINU Purworejo) tidak lepas dari peran para ulama lokal dan tokoh nasional seperti Prof. Dr. KH. Tolchah Mansur (Tokoh NU Nasional dan Pendiri IPNU) sebagai Rektor pertama STAINU Purworejo, KH. Nawawi Siddiq (Pengasuh PP. An-Nawawi Berjan Purworejo), KH. Damanhuri (Tokoh Ulama Purworejo), KH. Asnawi Umar, KH. Maftuh Muhtar, KH. Djamil, dll. Sekitar tahun 1982 Perguruan Tinggi Islam Imam Puro Purworejo beralamatkan di Jl. Magelang tepatnya di SMP Sultan Agung Purworejo, sebelah Kantor Polisi Baledono. Saat itu PTII Purworejo memiliki tiga Fakultas di antaranya, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Dakwah dan Fakultas Syariah.

Meskipun dari awal berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam ini bernama PTII, tapi sejak lahirnya perguruan PTII ini tak bisa lepas dari Nahdlatul Ulama. Di samping para pendiri adalah tokoh Nahdaltul Ulama, proses perkuliahan untuk pertama kali juga menempati gedung pertemuan Nahdlatul Ulama yang beralamat di Jl. KH. Wachid Hasyim Kepatihan Purworejo. Karena sarana dan prasarana perkuliahan di sana kurang memadai, kemudian pindah ke lokasi Gedung SMP NU di Tugu Jalan Ahmad Yani / Jl. Magelang, waktu kuliah siang karena paginya digunakan SMP NU (sekarang SMP Sultan Agung). Seiring dengan perubahan kebijakan pemerintah, dari yang awalnya bernama PTII kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU), dan dari program Sarjana Muda menjadi Program Sarjana (S-1), dengan KMA RI No. 219 tahun 1988.

Selanjutnya, seiring dengan berjalannya waktu nama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU) kembali berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo dengan membuka Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah (KMA RI No. 511 tahun 1995). Tempat kuliah pun mengalami perpindahan dari gedung pertemuan NU Jl. KH. Wachid Hasyim ke kompleks tanah milik NU Jl. Magelang atau Jl. Ahmad Yani hingga akhirnya pindah ke kawasan strategis yaitu di Jl. Pahlawan No. 5 Banyuurip Purworejo, tepatnya di sebelah utara GOR. Sarwo Edhi Wibowo Purworejo. Sampai saat ini STAINU Purworejo telah memiliki tanah dan gedung sendiri. Luas tanah yang dimiliki STAINU Purworejo pada tahun 1990 = 701m2, 2001 = 1.720 m2, 2002 = 769 m2 , 2005 = 865 m2, 2007 = 1.471 m2 dan tahun 2020 memiliki luas sekitar 4.055m2 dan sampai sekarang terus melakukan pengembangan aset sarana dan prasarana.

Dalam perkembangannya sampai saat ini Fakultas/Jurusan Tarbiyah tetap berjalan, dan mendapat animo yang besar dari masyarakat Purworejo dan sekitarnya. Namun Fakultas/Jurusan Dakwah mengalami penurunan animo dari masyarakat. Sehingga lambat laun hingga tahun 2020 bak hilang tertelan zaman, tidak ada mahasiswa. Melihat pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam bidang ilmu pendidikan Islam dan minat masyarakat untuk mengetahui serta memahami hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dalam Islam serta kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap Sumber Daya Manusia dalam bidang ini, maka pada tahun 2016 STAINU Purworejo membuka dua program studi baru, yaitu Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA).

Kedua program studi baru ini telah mendapat izin penyelenggaraan dari Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 2013 Tahun 2016 dan pergantian nomenklatur PGRA menjadi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) dengan nomor Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam 885 Tahun 2018. Saat ini ketiga prodi tersebut telah terakreditasi dengan kualitas “Baik” oleh BAN-PT pada tahun 2019. Dengan model percaya diri dan memohon kepada Allah SWT dengan sering menyelenggarakan mujahadah, dari waktu ke waktu STAINU mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.Wisuda Sarjana berkali-kali telah diselenggarakan dan para alumninya telah tersebar di berbagai tempat dan telah mengabdikan ilmu dan tenaganya baik dilingkungan pemerintah maupun di lingkungan swasta. Hal ini terbukti pada tahun 2021 STAINU Purworejo telah menghidupkan kembali Fakultas/Jurusan Dakwah yang dulu hilang, terutama Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI). Berbagai Rencana Pengembangan dan penataan manajemen mutu perguruan tinggi sudah mulai dilakukan STAINU Purworejo. Sehingga ke depan diharapkan STAINU Purworejo mampu melebarkan lembaganya untuk menjadi Institut (IAINU) atau bahkan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU).

Bertahun-tahun STAINU Purworejo berupaya untuk berafiliasi kepada Lembaga Perguruan Tinggi yang dalam hal ini adalah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). Upaya bergabung dengan NU secara struktural bukan berarti akan melemahkan jalinan komunikasi dan koordinasi dengan Yayasan (YASPINU) Purworejo yang telah lama terjalin. Melainkan berafiliasinya STAINU Purworejo di bawah koordinasi langsung LPTNU secara penuh justru akan memperkuat dan mengembangkan mutu kampus STAINU Purworejo menuju kampus yang unggul dan berdaya saing, baik dalam skala lokal, regional maupun nasional.

STAINU Purworejo secara resmi diserahkan kepada Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo dari Yayasan Perguruan Tinggi NU (YASPINU) Purworejo. Acara penyerahan ini dilaksanakan di Auditorium STAINU Purworejo, pada Selasa 16 Maret 2021. Akhirnya setelah sekitar satu setengah tahun berjalan, impian untuk menuju ke LPTNU Penuh sebagaimana pembahasan di Pertemuan Lugosobo Purworejo pada 10 Oktober 2019, saat ini dapat terwujud dalam acara serah terima STAINU Purworejo dari YASPINU Purworejo ke PCNU Purworejo pada Selasa, (16 Maret 2021/02 Syaban 1442 H). Acara serah terima status dihadiri oleh beberapa tokoh Purworejo di antaranya, KH. R. Abdul Hakim Hamid (Rois Syuriah PCNU Purworejo), K. Firman Yadin AW (Sekretaris PCNU Purworejo), KH. Abdul Hamid Ak, S.Pd.I (Ketua YASPINU Purworejo) beserta struktur kepengurusan Yayasan, KH. Kundari (Pembina YASPINU Purworejo) dan seluruh pimpinan STAINU Purworejo. Serah terima status langsung diserahkan oleh KH. Kundari selaku pembina YASPINU kepada KH. R. Abdul Hakim Hamid selaku Rois Syuriah PCNU Purworejo. Selanjutnya PCNU Purworejo menyerahkan seluruh berkas dan dokumen administrasi penting lainnya terkait STAINU Purworejo kepada PBNU. Sehingga secara struktural saat ini STAINU Purworejo merupakan bagian dari PBNU.

Kini STAINU Purworejo yang dirintis oleh para tokoh dan ulama Purworejo mantap eksis di tengah masyarakat Purworejo dengan memiliki tanah dan gedung sendiri beserta fasilitas yang memadai sesuai Standar Nasional Peguruan Tinggi. STAINU Purworejo secara kultural dan struktural di bawah naungan Nahdlatul Ulama, atau dalam hal ini langsung di bawah koordinasi Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) secara penuh melalui Badan Pelaksana Penyelenggara Perguruan Tinggi NU (BP3TNU) PCNU Purworejo. Dalam rangka menyongsong masa depan yang cemerlang, STAINU Purworejo siap untuk menjadi Perguruan Tinggi NU yang kompetitif dan unggul dalam IPTEKS dan Ilmu Keislaman yang Berwawasan Kebangsaan pada Tahun 2040. Hal ini dilakukan untuk mencetak cendikiawan dan ilmuwan Muslim yang berkualitas, berakhlak dan berwawasan kebangsaan dalam menjawab tantangan zaman. Integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan ilmu keislaman yang berwawasan kebangsaan, akan mencetak generasi yang rahmatan lil ‘alamin.

Stainu Menjadi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang Kompetitif dan Unggul Dalam IPTEKS dan Ilmu Keislaman yang Berwawasan Kebangsaan Pada Tahun 2040
© 2021 Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Purworejo Follow STAINU PURWOREJO: Facebook Twitter Linked Youtube